Howling

Disclaimer : Tulisan ini ditulis oleh seorang rekan yang tidak ingin disebutkan namanya

Pernahkah kamu bertemu dengan seseorang? Namun kamu merasa langsung terikat dengannya? Pernahkah kamu merindukan atas sesuatu yang bahkan sama sekali tidak pernah terjadi di masa lalu?

Alkisah aku bertemu dengan dirinya pada suatu hari di pertengahan tahun, disebuah jagat maya terpisah jarak mungkin 500kilometer lebih. Aku melihat wajahnya dan aku seketika hanya ingin mendengar dia berbicara, meskipun waktu saat itu terbatas tapi aku berikan ia 180 detik lebih agar aku bisa mendengarnya berbicara lebih lama. Setelah ia kehabisan waktu, maka yang kulakukan adalah mencari tahu tentang dirinya tanpa memperdulikan orang lain yang ada selain dia. Meskipun hari itu berakhir aku masih teringiang-ngiang tentang dirinya, siapa orang tersebut?. Lalu aku mengetahui bahwa temanku berteman baik dengan orang tersebut, dan aku mencoba mempelajari tentang dirinya melalui temanku.

Ternyata dia sedang dalam pergulatan batin atas kehidupannya, dan dalam waktu singkat pula ia harus berpindah ke suatu tempat yang jauh dari tempatnya pada saat ini. Aku tidak tahu harus berkata apa, entah mungkin karena harapku adalah bertemu dengannya atau karena terlanjur mengetahui tantangan besar yang sedang dirinya hadapi saat ini. Sejujurnya sudah lama kukembangkan kemampuan antara memisahkan perasan dan pikiranku, dari dulu hal tersebut bak sebuah zat mercury yang bisa melukaiku perlahan dan mendalam. Akan tetapi aku rasakan secara jujur bahwa aku terlanjur memendam rasa peduli kepada dirinya. Entahlah, apakah karena ia memiliki nama yang sama dengan seorang di masa lalu, ataukah karena ia memiliki wajah dengan seseorang lain di masa lalu. Bolehkah kalau aku berkata bahwa dari tatapan mata dirinya, aku dapat membayangkan kehidupan bersama dirinya?.

Waktu berjalan dan yang kulakukan setelahnya adalah mencari tahu lagi tentang dirinya, namun kali ini temanku lebih banyak bercerita tentang kepribadiannya, kebaikannya, dan betapa ia berhasil membuat bangga keluarganya. Meskipun begitu aku tidak bisa mensampingkan mengenai tantangan besar yang sedang dia hadapi didalam kehidupannya, entah kenapa aku ingin peduli dengan lebih, meskipun kurasa itu tidak baik namun aku ingin tetap meluapkan rasa peduli tersebut dalam bentuk apapun. Aku berikan lirik lagu ketika ia sedang membutuhkan, bahkan pernah juga ia hadir dalam mimpiku dan mengusap kepalanya didalam mimpi karena ia terlihat sedang sedih dan butuh pertolongan. Begitu juga tulisan ini kubuat sebagai bentuk peduli, meskipun aku tidak tahu apakah suatu hari dia akan membaca tulisanku ini.

Aku rasa sikapku ini adalah sebuah abstrak manusia yang hanya tergerak dari hati nurani, atau mungkin dari empati dan rasa peduli? Atau mungkin dari rasa atas kagum kepada dirinya yang seketika membuatku menilai dirinya adalah sesuatu berharga yang wajib mendapatkan kebahagiaan? Entahlah, rasanya seperti aku  seperti sedang menjadi sebuah serigala yang ingin berteriak kencang ditengah hutan kala malam dibawah bulan purnama. Yakni mengeluarkan suara untuk ingin terdengar namun juga diwaktu yang bersamaan tidak ingin terdengar oleh siapapun.

Pondok Cabe, 10 November 2025

Ditulis Oleh Anonim dititip di website Lita

Published by


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *